BeritaDaerahHukum Dan KeadilanKalimantan Tengah

Emas yang Memudar: Menyoal Masa Depan Sungai Ngabe dan Mentaya Hulu

17
×

Emas yang Memudar: Menyoal Masa Depan Sungai Ngabe dan Mentaya Hulu

Sebarkan artikel ini

Kalimantan Tengah // Siberpatroli.co.id – Kabar mengenai maraknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di sepanjang aliran Sungai Ngabe, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, bukanlah sekadar isu lingkungan biasa.

Ini adalah alarm keras bagi ekosistem dan keberlanjutan hidup masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah.

1. Ekosistem yang Tergadai

Sungai bukan sekadar saluran air; bagi warga Mentaya Hulu, sungai adalah urat nadi kehidupan.

Praktik pertambangan ilegal seringkali identik dengan penggunaan zat kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida.

Jika ini terus dibiarkan:

* Kualitas Air Menurun: Air sungai menjadi keruh dan beracun, tidak lagi layak untuk konsumsi maupun mandi.

* Kehancuran Biodiversitas: Habitat ikan lokal akan hancur, memutus rantai pangan masyarakat tradisional.

* Pendangkalan Sungai: Aktivitas penyedotan pasir menyebabkan perubahan morfologi sungai yang memicu risiko banjir di musim hujan.

2. Dilema Ekonomi vs. Kelestarian

Seringkali, alasan “perut” menjadi tameng di balik masifnya penambangan liar.

Namun, kita harus jujur: siapa yang benar-benar diuntungkan?

Apakah masyarakat lokal yang bekerja bertaruh nyawa di lubang galian, atau para pemodal (cukong) yang bersembunyi di balik layar?

Kekayaan alam Kotim seharusnya dikelola secara legal dan berkelanjutan agar manfaatnya bisa dirasakan melalui pajak dan program pemberdayaan, bukan justru meninggalkan lubang-lubang maut yang tak tereklamasi.

3. Menanti Ketegasan Aparat dan Pemerintah

Isu di Sungai Ngabe menuntut kehadiran negara secara nyata.

Penertiban tidak boleh hanya menjadi seremoni sesaat atau sekadar “kucing-kucingan” antara petugas dan penambang.

Diperlukan:

* Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu: Menindak tegas pemodal besar di balik layar, bukan hanya pekerja lapangan.

* Solusi Alternatif: Memberikan edukasi dan akses lapangan kerja yang lebih aman dan ramah lingkungan bagi warga setempat.

* Pengawasan Terpadu: Melibatkan tokoh adat dan masyarakat lokal sebagai garda terdepan penjaga sungai.

 

Catatan Redaksi: Kekayaan emas di perut bumi Mentaya Hulu mungkin akan habis dalam hitungan tahun, namun kerusakan lingkungan yang ditinggalkan bisa bertahan hingga lintas generasi. Jangan sampai anak cucu kita nantinya hanya mewarisi sungai yang mati dan tanah yang beracun demi keuntungan jangka pendek hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250

Example 728x250
error: Content is protected !!