Siberpatroli.co.id // MENTAYA HULU,– Suasana khidmat dan penuh keharuan menyelimuti kediaman Hj. M. Tarmiji di Desa Tanjung Jariangau, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Di bawah langit Idul Adha, 10 Zulhijjah 1447 H, sebuah babak kisah tentang cinta, akar sejarah, dan bakti kepada leluhur kembali ditulis oleh Keluarga Besar Almarhum H. Mochran bin H. Ali.

Meski sebagian besar keturunan telah merantau jauh ke ibu kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya, jarak ribuan kilometer terbukti tak mampu mengikis ikatan darah.
Kehadiran rombongan dari Jakarta hari ini Kamis,28/5/2026, disambut dengan pelukan hangat, jabat tangan erat, dan linangan air mata kerinduan dari sanak saudara yang bertahan di kampung halaman, termasuk mereka yang sengaja datang dari Kuala Kuayan, Pemantang, Desa Tambak hingga Kota Palangka Raya.
Tahun ini, mereka pulang membawa satu misi suci yang dikemas dalam tema yang menyentuh sanubari: “Pulang ke Kampung Halaman Leluhur di Desa Tanjung Jariangau, Melatih Kesabaran, Membangun Kekompakan Bergotong Royong untuk Persatuan dan Keutuhan Keluarga Besar.”
Bakti yang Tak Pernah Alpa, Menjaga Wangi Nama Leluhur
Bagi warga Desa Tanjung Jariangau, kehadiran keluarga ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah manifestasi dari janji yang tak tertulis namun selalu ditepati.

Sejak dulu hingga kini, Keluarga Besar Alm. H. Mochran bin H. Ali dikenal tak pernah alpa mengirimkan atau membawa sendiri hewan kurban untuk masyarakat desa.
Di atas tanah tempat ari-ari leluhur mereka tertanam, ibadah kurban kali ini diikrarkan dengan penuh takzim atas nama tujuh jiwa terkasih:
- Alm. H. Mochran bin H. Ali
- Alm. Hj. Siti Djumantan binti H. Mutholib
- Hj. Siti Roosida binti H. Mochran
- Hj. Siti Roostiana binti H. Mochran
- Hj. Siti Yunia Irawati binti H. Oendjiono
- Binara Khalid Ramza bin Ryanfeiza Hareshita Husri
- Amara Ryshifa Husri binti Ryanfeiza Harashita Husri
Nama-nama yang disebut dalam doa sebelum penyembelihan seolah memanggil kembali memori kolektif keluarga tentang ketulusan dan fondasi kasih sayang yang telah diletakkan oleh para pendahulu.
Pesan Rindu dari Sang Guru Besar
Di tengah keriuhan warga yang bergotong royong, tampak sosok Prof. Dr. Yunia Irawati, Sp.M(K)—atau yang di kalangan keluarga akrab disapa Hj. Siti Yunia Irawati binti H. Oendjiono.

Di balik status menterengnya sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Kesehatan Mata (Plastik dan Rekonstruksi Mata) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta, hari itu beliau melebur tanpa sekat bersama warga desa.
Sambil menahan haru, Prof. Yunia mengungkapkan betapa pentingnya bagi generasi penerus untuk tidak melupakan bumi tempat kaki leluhur mereka pernah melangkah.
”Sejauh apa pun kita merantau, setinggi apa pun pendidikan atau jabatan yang kita raih di luar sana, kampung halaman adalah tempat pulang yang sesungguhnya. Lewat ibadah kurban ini, kami tidak hanya ingin berbagi daging, tetapi ingin merajut kembali benang-benang silaturahmi yang mulai renggang oleh jarak,” ucap Prof. Yunia dengan suara bergetar menahan rasa syukur.
”Kami ingin melatih kesabaran bersama, bergotong royong, dan memastikan bahwa persatuan serta keutuhan keluarga besar ini tetap kokoh, seakar dengan tanah Tanjung Jariangau ini,” lanjutnya.
Satu Nampan Gotong Royong
Aroma daging kurban yang diolah bersama, tawa renyah anak-anak desa, dan pelukan perpisahan yang berat menjadi penutup dari rangkaian ibadah yang penuh air mata kebahagiaan ini.
Melalui momen Idul Adha 1447 H, Keluarga Besar Alm. H. Mochran bin H. Ali telah mengajarkan satu hal berharga kepada kita semua: bahwa sesukses apa pun seseorang di perantauan, kemuliaan sejati adalah ketika ia mampu pulang, memeluk kembali saudaranya, dan menjadi berkat bagi tanah kelahirannya. (Red)












